Menuju Kota Mojokerto Lebih Baik

Jawa Pos, Rabu 26 Maret 2008
Ditulis oleh: H. R. Djoni Sudjatmoko, SE

Sudah tak bisa menunggu lagi
Sudah terlalu lama tidur
Sudah terlalu jauh tertinggal ..
.. tertinggal dari kota-kota lain di sekitarnya
Sudah saatnya bangun !!
Bangun untuk mengubah dirinya
Berubah ke arah yang lebih baik
Berubah mengejar ketertinggalan

Untaian bait kata-kata di atas adalah ungkapan keprihatinan saya sebagai warga Kota Mojokerto, yang mengabdi pada pernerintah pusat. Saya yakin hal ini juga menjadi keprihatinan sebagian warga Kota Mojokerto yang punya kepedulian akan kotanya, dan saya juga yakin keprihatinan ini ada di setiap hati kecil warga Kota Mojokerto.

Masih teringat, ketika saya masih kecil dulu, Kota Mojokerto cukup hebat. Pertokoan di sepanjang JI Majapahit begitu ramai dan menyenangkan. Banyak sekali pengunjung setiap harinya, apalagi di hari libur. Baik warga kota maupun luar kota. Baik untuk berbelanja atau pun sekadar jalan-jalan. Berbagai kebutuhan hidup sehari-hari dapat diperoleh dengan lengkap dan harga yang bersaing di kota ini. Saat itu berbagai fasilitas umum tersedia cukup lengkap dengan kualitas yang bersaing dengan kota-kota lainnya.

Pendek kata, saat itu Kota Mojokerto terasa sebagai kota jasa yang siap melayani warganya, juga warga kabupaten, serta kota lain di sekitarnya, seperti Jombang dan Sidoarjo. Seiring berjalannya waktu dari tahun ke tahun, perkembangan Kota Mojokerto memperlihatkan tingkat angka statistik pertumbuhan yang semakin menurun apabila dibandingkan dengan kota-kota lain di sekitarnya di Jawa-Timur.

Kita lihat saja di tahun 2006, pertumbuhan ekonomi Kota Mojokerto sebesar 5,51 persen. Hal ini jauh di bawah rata-rata nasional yarig telah menembus angka 6,2 persen. Apalagi menilik posisi Kota Mojokerto sebagai penghubung dan penyangga Ibukota Provinsi Jawa-Timur yaitu Kota Surabaya yang merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Dengan kondisi itu, seharusnya perturnbuhan ekonorni Kota Mojokerto di atas rata-rata nasional. Sebagaimana dua kota lainnya yang memiliki karakteristik yang hampir sama, yaitu Gresik dan Sidoarjo.

Sampai saat ini, saya perhatikan Kota Mojokerto sudah cukup tertinggal untuk ukuran sebuah kotamadya di Jawa-Timur. Salah satu contohnya adalah bisnis sepatu yang menjadi potensi andalan Mojokerto.

Perajinnya marak di Kota Mojokerto, namun sentra bisnisnya justru ada di Kabupaten Mojokerto. Sehingga membuat Kota Mojokerto belum dapat benar-benar mewujudkan predikat sebagai kota perdagangan dan jasa. Banyak lagi hal-hal lain yang kurang baik apabila diungkapkan di sini. Intinya, saya mau mengingatkan dan membuka kesadaran bersama, bahwa: faktanya Kota Mojokerto sampai dengan saat ini sudah cukup jauh tertinggal dengan kota kota lain di sekitamya. Ketertinggalan Kota Mojokcrto dengan kota-kota lain disekitarnya adalah sesuatu yang sudah terjadi, tidak perlu lagi disesali. Yang terpenting adalah, kita menyadarinya, untuk kemudian kita pikirkan dan upayakan bersarna agar seluruh elemen masyarakat memulai langkah-langkah perubahan yang diperlukan untuk mengejar ketertinggalan. Kebersamaan disini mutlak diperlukan untuk sebuah perubahan.

Konsep perubahan yang diupayakan harus terencana dengan baik, konsisten, gradual dan bertahap. Sehingga dapat dilaksanakan secara terus menerus dengan power yang kuat dan tidak melempem di tengah perjalanan. Tentunya juga yang harus ada dalam setiap tahapan perubahan yang diupayakan senantiasa diikuti dengan perbaikan akhlak masyarakat menuju akhlak yang mulia.

Intinya, saya mau mengingatkan dan membuka kesadaran bersama bahwa: faktanya Kota Mojokerto sampai dengan saat ini sudah cukup jauh tertinggal dengan kota-kota lain di sekitarnya


About this entry